Perahu Datuk Bogak Ditemukan

Jan 22nd, 2008 by batubaranews | 4

Foto bangkai perahu datuk BogakBaru-baru ini ditemukan bangkai Kapal Serumpu, perahu Datuk Bogak Bandar Rahmadsyah yang diperkirakan berusia 300 tahun di Desa Bogak Kecamatan Tanjung Tiram, Batu Bara. Kapal ini dibakar Belanda saat pembumihangusan kampung Bogak. Berikut petikannya :

——————–

USIA PERAHU DIPERKIRAKAN 300 TAHUN
Perahu Datuk Bogak Bandar Rahmadsyah Berteknologi Tinggi

BANDAR RAHMADSYAH (BARA POS) Kepala Badan Aerkeologi Sumatera Utara Lugas Pertanda DEA mengatakan, untuk di Sumatera itu telah ditemukan tiga kapal, yakni perahu lesung pantai Cermin Serdang Bedagai tiga tahun lalu usia 150 tahun, perahu lesung Tebing Tinggi setahun lalu 150 tahun lalu, dan kini di Desa Bogak Tanjung Tiram Batu Bara asumsi sementara diperkirakan berusia 300 tahun lalu.
Dari segi teknologi perahu ini masuk dalam teknologi perahu papan, walaupun dasarnya masih menggunakan lunas masih merupakan sesuatu yang cukup terkait karena masih menggunakan perahu lesung. “Jika dibandingkan dengan dua perahu lesung milik Tebing Tinggi dan Serdang Bedagai, perahu Datuk Bogak ini dipastikan jauh lebih modern dan tua,” ujarnya.kapal-serumpu-perahu-datuk-bogak

Menurutnya, dari koleksi diberbagai museum teknologi pembuatan perahu jenis kayu ini sangat tinggi sangat luar biasa, bahkan berdasarkan temuan perahu di pesisir wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Lampung, serta Riau belum mampu menandingi teknologi pembuatan perahu Datuk Bogak Bandar Rahmadsyah. Dia menilai, dari segi ukuran perahu bukan menjadi ukuran, namun ukuran teknologi itu dilihat bagaimana pembuatan dan pembentukan konstruksi perahunya. Jika dibandingkan, dari temuan perahu sebelumnya masih menggunakan prinsip perahu pembuatan sama, dan perahu Datuk Bogak Bandar Rahmad ini merupakan penemuan yang hebat. Artinya, masyarakat Bogak dahulunya memiliki keunggulan dalam teknologi dan bila dilihat dari motif perahu masih umum, namun demikian motif perahu yang ada di Indonesia memang pada prinsipnya tidak banyak perbedaan, tapi fisik perahu dapat diartikan memiliki perut lebar. Mungkin dapat diasumsikan sementara ini, bentuk perahu sama dengan perahu tembong di Cirebon Pulau Jawa dan sangat memadai saat menghadapi ombak besar. Memang bagi penumpang itu sangat mengerikan, karena perahu akan mengayun secara terus menerus. Namun kemungkinan untuk tenggelam sangat kecil dan diperkirakan panjang perahu mencapai 10 hingga 12 meter sementara lebar lambung perahu 3 hingga 4 meter, serta ketinggian satu setengah meter.
Kemampuan teknologi perahu sangat lentur menghadapi ombak/gelombang, dan itu didukung oleh jenis kayu yang berbeda dimasing-masing konstruksi perahu. Mengenai lunas dan lesung perahu dasar kayu tersendiri dengan kayu gading-gading.

Teknologi penyatuan gading-gading dengan lesung menggunakan teknologi pasak, dan pakunya berasal dari kayu. Kemudian, di bagian lain ditemukan patinasi logam guna untuk menghubungkan lunas dengan lesung, serta gading- gading.

Fungsi perahu diperkirakan jenis perahu barang atau perahu niaga, dan bukan perahu tambang. Mengenai daya beban perahu mampu menahan beban 15 ton dan aktifitasnya diperkirakan untuk keperluan perdagangan antar pulau dan negara.

Bila dilihat dari struktur perahu menggunakan layar sebanyak dua tiang layar, yakni layar utama (layar besar) dan layar pembantu (layar kecil) serta didukung dengan dayung. Pada sistem kemudi ada kecendrungan dipasang di belakang samping perahu, kemudian dibawah lunas dipasang seperti kondom untuk pengamanan karena bagaimana pun setiap perahu diharapkan tidak melawan ombak atau karang, tapi bagaimana berhasil melawan kondisi penghalang dan kemampuan itu dimiliki perahu Datuk Bandar Rahmadsyah ini. Karenanya, kenapa dalam perahu ini menggunakan kayu di lunas yang berbeda dan jenis
kayu tidak keras, melainkan kayu lembut yang digunakan sebagai banper untuk memudahkan perahu melewati lumpur atau pasir dan teknologi ini tidak dimiliki pada temuan perahu yang ada di Indonesia dan dibanding dengan perahu lesung kemampuan teknologinya belum seberapa. Jadi, masyarakat Batu Bara boleh merasa sombong, karena dahulunya masyarakat Batu Bara memiliki kemampuan teknologi tinggi dari masyarakat lainnya. (ta hidayat)

——————–

Saat ini sampel perahu dibawa ke Badan Tenaga Atom Indonesia untuk diteliti lebih lanjut agar diketahui usia absolut dari perahu yang dinilai purbakala ini.

Seiring dengan ditemukannya perahu Datuk Bogak tersebut ditemukan pula bangkai kapal Belanda sekitar 2 kilometer dari pantai.

——————–ilustrasi-asal-usul-kapal-serumpu-datuk-bogak

Dua Kapal Belanda Tenggelam Di Laut Bogak
Jarak Kapal 2 Kilometer dari Bibir Pantai

LIMA PULUH (BARA POS)  Saat Kampung Bogak dibumi hanguskan Belanda siang, sorenya Datuk Bogak beserta lima orang berangkat membawa sampan guna untuk menenggelamkan dua kapal serdadu Belanda.
Upaya ini dilakukan disaat para serdadu Belanda menyerang kampung, dan lengah. Selan itu, penjaga kapal Belanda tidak ada, dalam kesempatan itu dua kapal besar dan sedang milik Belanda berhasil ditenggelamkan dengan cara menjebolkan lambung kapal dengan tombak. Posisi kapal tenggelam tidak jauh dari Kampung Bogak, atau tepat di depan rumah pembuat kapal sekira dua kilometer dari pemukiman Datuk Bogak. Ukuran dua kapal Belanda yang ditenggelamkan itu, diperkirakan lebin besar dari Kapal Serumpu. Kemudian, beberapa meter mendekati Kapal Belanda mereka berenang dan menyelam hinggalambung kapal berhasil dibocorkan.

Setelah menenggelamkan kapal, Datuk Bogak berupaya melarikan dirinya, dari kejaran serdadu Belanda, namun sesaat kemudian tertangkap oleh serdadu.(ta hidayat)

Sementara itu pemburu barang antik pun berdatangan, bahkan dari luar negeri, untuk membeli barang-barang antik yang ditemukan di sekitar perahu. Benda-benda yang ditemukan berupa keramik dari Cina dan uang logam VOC tahun 1734, 1752, 1760, 1780, 1781, 1788 dan 1790. Dan di sekitar pantai masih banyak emas batangan yang terpendam di dasar laut tidak jauh dari ditemukannya kapal. Dan ditemukan juga tulang belulang penjaga perahu Datuk Bogak di bawah bangkai perahu.

Ditemukannya perahu Bogak membuktikan bahwa dahulunya masyarakat Bogak Kecamatan Tanjung Tiram memiliki peradaban yang maju. Diharapkan masyarakat Bogak menjaga aset-aset peninggalan para datuk-datuk untuk dilestarikan, jangan sampai satu persatu raib dibawa pemburu barang-barang antik ke luar negeri.

  • Share/Bookmark

4 Comments on “Perahu Datuk Bogak Ditemukan”


  1. anaesteshia said:

    wow fantastis……


  2. batubaranews said:

    @ anaesteshia
    Eiit, jgn coba2 naksir harta karun kampung gue, ye! :D


  3. anaesteshia said:

    ha ha ha……………………….. keren……………………….

    ;)


  4. sry said:

    ngek

Leave a Reply

Switch to our mobile site