Lemang Batubara dan Prospek Ekonomisnya

Sep 1st, 2009 by BatubaraNews | 0

Oleh Abi Jumroh Harahap
Terjadi tawar-menawar setengah sengit. Namun cuma sebentar. Penjual lemang di pesisir pantai Batubara itupun akhirnya mengalah. Diserahkannya 3 batang setelah aku menyerahkan Rp 20.000 untuk dagangannya yang telah lama ingin aku nikmati. Tak berhenti di situ, pada bangku kayu miliknya kami duduk dan saling bercerita. “Kami jualan lemang turun-temurun.” Itulah sepenggal kalimat yang diucapkannya.
Lemang. Agaknya, kebanyakan orang pernah mencicipi gurihnya penganan Nusantara yang satu ini. Populer memang. Ia bisa jadi santapan di kala senggang, bahkan dalam acara-acara tertentu bernuansa tradisi. Bila suka, makanan khas berbahan dasar ketan ini dikudap bersama teh atau kopi.
Entah bagaimana muasalnya, di Sumatera Utara (Sumut), makanan produk budaya anak negeri itu, selalu identik dengan Kotamadya Tebingtinggi. Ia pun menjadi oleh-oleh. Tapi, di Batubara juga ada. Bahkan, para ahli pembuatnya berani mengklaim, lemang produk masyarakat pesisir itu, punya keunggulan tersendiri dibandingkan daerah lain. Lebih enak. Apalagi, proses pengerjaannya mengikutkan kemauan tradisi.
“Perlu sekitar enam jam untuk mengolah bahan,” kata Alibiah (50) salah seorang pengusaha tradisional yang mengaku telah menekuni pekerjaannya sejak 12 tahun silam.
Sedangkan masa pemanggangan, ungkapnya, paling tidak memakan waktu hingga lima jam, agar menelurkan hasil yang sempurna. Dua tahapan itu, diakui punya kiat khusus dalam menanganinya. Tujuannya satu: konsumen tidak kecewa.
Memang, sekalipun lemang telah punya nilai ekonomis sejak nenek moyang, namun, semasih lagi digenggam Asahan, sampai kini pun, belum disediakan tempat tertentu untuk berjual beli. Dalam rentetan dekade kebelakang, cuma cara pemesanan yang diandalkan. Selain itu, masyarakat menjajanya saat menyambut momen-momen khusus, semisal pada “pesta tapai” yang biasanya digelar dua pekan sebelum Ramadhan.
Padahal diperkirakan, jika kreativitas disertakan dalam menangani jenis makanan yang banyak digemari ini, baik dalam penyajian, ataupun pemasaran, bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu produk yang punya pangsa yang lebih luas. Penikmatnya, boleh jadi tidak hanya di negeri ini.
Kenyataannya, lemang yang adakalanya menjadi menu spesial pada acara tertentu di sini, belum meroket jauh. Apalagi di Batubara, yang praktis tidak punya sentra khusus untuk berjual-beli untuk produk penganan semacam itu. Tidak seperti Tebingtinggi yang punya kawasan khusus seperti di Jalan Tjong A Fie, di pusat kota.
Di Batubara, untuk mendapatkannya, Anda mesti ke Dahari Selebar, Talawi. Sebuah kawasan perkampungan melayu, yang juga terkenal dengan kerajinan kain songketnya yang telah lebih dahulu dikenal luas oleh pasar, bahkan menurut sejumlah pengrajinnya yang tetap eksis, telah sering diperkenalkan ke luarnegeri.
Perbatang, harganya bervariasi, mulai dari Rp 7.000 – 10.000 tergantung ukuran. Pak Udin (40) yang berjualan bersama isterinya, mengaku, dalam sehari, bisa menjual 20 batang, dengan keuntungan rata-rata Rp 3.500 untuk setiap batang yang laku. Itu, jika pada momen-momen tertentu, seperti pada acara-acara rakyat, seperti meramaikan Ramadhan seperti tahun ini. Kalau, pada hari-hari biasa, cuma mengharapkan orderan.
Bila dalam partai besar, bisalah punya pendapatan lebih besar. Tapi itu jarang. Begitupun ia mengakui, paling tidak jika berbisnis selama menghadapi bulan suci saja, keluarganya bisa diringankan dalam belanja menjelang Hari Raya.
Butuh Pembinaan
Tapi, nampak jelas mereka belum bermimpi. Berbeda, dengan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat, Aguslan. Ia berencana dalam waktu dekat ini akan mengumpulkan semua pengrajin, termasuk yang punya keahlian dalam mengolah makanan, guna diarahkan dan di berikan support agar lebih produktif. “Kita perlu bekerjasama membantu mereka, agar dapat lebih bergairah dalam menjalankan usahanya,” ungkap Aguslan ketika sempat membicarakan persoalan itu dengan MedanBisnis belum lama ini.
Begitupun, ia mengakui, pekerjaan tersebut, jelas tidak mudah. Sentra-sentra kerajinan, perlu. Begitupula dengan fasilitas yang akan memudahkan hasil produktivitas untuk dipasarkan. Promosi juga penting, di samping mempertahankan kualitas agar memiliki kemampuan daya saing dengan produk sejenis yang beredar di pasaran.

http://www.medanbisnisonline.com/2009/08/31/lemang-batubara-dan-prospek-ekonomisnya/

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

Switch to our mobile site