Sempat Terdesak Songket Palembang dan Thailand
*cw 05
Sampai pertengahan 90-an, Batubara yang masih berada dalam lingkungan Kabupaten Asahan sangat tekenal dengan kain tenunannya (songket batubara). Ini bisa dilihat dari hampir setiap desa yang berada di kawasan Batubara, remaja putrinya selalu bertenun kain. Pada saat itu nilai jualnya sangat tinggi dan bisa menjangkau pasar mancanegara.
Itu terjadi pada era tahun 1980-an. Pada waktu itu kaum ibu yang bepergian khususnya undangan pesta pernikahan menjadikan kain songket batubara sebagai sarung khusus yang dipakai untuk undangan pesta. Ada nilai prestisius tersendiri bagi para ibu yang mengenakannya pada momen-momen resmi. Namun, seiring berjalannya waktu dan maraknya gaya hidup ala Barat dengan modernisme-nya, tolok ukur prestisius dunia fashion juga bergeser, kain songket batubara juga mulai memudar pesonanya. Mereka lebih senang berpakaian dengan pakaian bermotif dan berbahan modern.
Kepala Dinas Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Batubara, Aguslan Simanjuntak, mengakui hal itu ketika bertemu MedanBisnis, akhir pekan lalu. Dia mengatakan jika saat ini jumlah pengrajin songket batubara hanya berkisar 150 orang saja, dan itu pun mayoritas penenun masih bersifat tradisional yakni menggunakan alat manual yang biasa disebut gedokan. Makanya produksi songket dari wilayah ini tidak lebih dari 5.000 helai per tahunnya.
Sistem pemasaran yang tidak dikuasai oleh para pengrajin songket tersebut juga membuat produksi dan penyebaran songket batubara semakin lama semakin turun. Belum lagi dominasi pasar songket dari luar kota seperti Palembang dan Thailand yang lebih murah karena diproduksi dengan mesin, sudah merambah pasar Sumut dan sekitarnya. Hal ini membuat posisi songket batubara semakin kehilangan pamor di hati pengguna songket. Barang bermerek asal Eropa dan Amerika Serikat sedikit banyak juga mempengaruhi ruang gerak songket batubara ini, sebab nilai prestisiusnya juga mulai pudar karena dianggap kuno.
“Songket Thailand memang sudah merambah pasar Asia Tenggara, karena selain mereka sangat didukung oleh pemerintahnya, nilai tradisional dan komersil bisa berjalan seiring, sehingga baik dari sisi budaya maupun bisnisnya bisa tetap hidup dan menghidupi pengrajinnya. Itulah yang ingin kita terapkan di Batubara ini, membangkitkan songket Batubara kembali,” tukas Aguslan bersemangat.
Tahun 2010, pihaknya menargetkan produksi songket batubara bisa mencapai 10.000 helai per tahun. Caranya dengan memberi bantuan kepada pengrajin berupa alat tenun bukan mesin (ATBM) yang meskipun harganya lebih mahal dua kali lipat dari gedokan, namun hasil produksinya tiga kali lipat lebih cepat. Pemkab Batubara akan merangkul sejumlah sponsor untuk memberikan bantuan alat serta penyuluhan kepada pengrajin. Pihaknya juga akan menggandeng pengrajin batubara, terutama yang ada di Kecamatan Telawi, dan pengrajin tenunan asal Yogyakarta untuk mendapatkan pembinaan dan peningkatan produksi kerajinan.
Selain itu, pengrajin juga akan dibekali pengetahuan untuk membuat hak cipta. Sebab, meski menenun pesanan songket dengan berbagai corak dan warna dari berbagai propinsi di tanah air hingga ke mancanegara, namun sebagian besar songket tenunan pengrajin batubara yang tidak diberi merek dan tidak satu pun juga yang telah didaftarkan di Lembaga Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Hal ini penting karena menyangkut citra dan karakteristik songket hasil Batubara.
Dalam kesempatan berbincang panjang lebar dengan MedanBisnis, Aguslan juga menghimbau agar hendaknya masyarakat kembali mencari jati dirinya yang hilang. Salah satunya dengan membangkitkan kembali budaya – budaya yang dulu pernah menjadi tren di kalangan masyrakat Batubara. Hal ini tidak terlepas dari sejauh mana perhatian pemerintah daerah terhadap budaya Melayu itu sendiri. “Pemerintah punya peran penting dalam menggali unsur – unsur dasar yang di masyarakat kabupaten Batubara. Namun masyarakat juga harus pro aktif melalui tokoh – tokoh masyarakat dalam mengembalikan jati diri budaya tersebut,” ujar Aguslan. (bersambung)
http://www.medanbisnisonline.com/2009/10/20/songket-batubara-2sempat-terdesak-songket-palembang-dan-thailand/

ERA BOR Jasa Pembuatan Sumur Bor. Solusi Air Bersih, air kuning, air bau, air kotor, air kering, air keruh. Untuk Industri maupun Rumah Tangga. Hubungi: 081263497942
___________________________________
Spesialis Konstruksi Baja Ringan
Kami menerima pemasangan rangka atap baja ringan dengan harga kompetitif. (Sumut-Aceh-Riau-Sumbar-Jambi-Bengkulu-Palembang-Lampung) Hubungi : Danil (081370959533)
___________________________________













ilyas said:
kami menerima pesanan ATBM dan spare partnya, menerima pemesanan kain tenun ikat
hub 08122077836
alamat: kadatuan-majalaya
biasa menerima pemesanan ke pekalongan, jogyakarta, bali, sumatera,
.:menerima setting jaquard:.