Annyong Haseyo vs Assalaamu’alaikum

Oct 25th, 2009 by BatubaraNews | 0

Hidayatullah.com–Saat belajar bahasa Korea secara otodidak di Indonesia dahulu, ungkapan “Annyong haseyo” begitu cepat akrab di telinga saya.” Annyong Haseyo” mudah sekali untuk diingat dan diucapkan dibandingkan dengan kata-kata yang lain, menurut saya. Ungkapan ini selalu muncul sebagai pembuka dialog dan perjumpaan harian di Korea.

Saya sempat sedikit penasaran dengan ungkapan tersebut. Menurut sebuah buku Percakapan Bahasa Korea Sehari-hari karya salah satu pengajar Bahasa Indonesia untuk mahasiswa Korea di UGM, Annyong haseyo berarti selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, halo, apa khabar, dan salam kenal. Satu ungkapan dengan banyak arti, semakin menarik saja pikir saya.

Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan motivasi diri di kampus IPB. Pelatihan ini sempat menjadi sebuah pelatihan yang prestisius di kalangan mahasiswa. Selain karena harganya yang super mahal untuk kelas pelatihan sejenis, pelatihan ini juga terbukti memberikan hasil yang cukup baik dalam mempengaruhi pola perilaku peserta pascapelatihan.

Untuk tulisan kali ini bukan pelatihannya yang ingin saya bahas, melainkan satu hal menarik yang terdapat di dalam pelatihan tersebut. Salah satu icon dari pelatihan ini ialah terdapat pada sapaan yang digunakan sang motivator. Sang trainer selalu menyapa peserta dengan ucapan “Selamat pagi”. Sebuah sapaan lintas waktu yang diucapkan dengan penuh semangat, tentunya setelah ucapan salam.

Intonasinya pun sedemikian khas. Slamat pagi…!!!. Sapaan yang jika diucapkan oleh siapa pun –sudah pasti dengan intonasi khas tersebut– seakan-akan menghipnotis pendengarnya agar senantiasa merasa segar dan memiliki semangat baru. Dua keadaan yang identik dengan suasana di pagi hari.

Ketika saya sudah menghirup udara negeri gingseng , saya teringat kembali akan ucapan khas Korea tersebut. Profesor, teman lab, dan beberapa teman Korea saya begitu fasih dan ringan dalam mengucapkan ungkapan tersebut. Beberapa hari di lab membuat saya ikut-ikutan terbiasa dengan gaya sapaan ini, meskipun di beberapa hari pertama mereka selalu membalas sapaan saya dengan sebuah senyuman terlebih dahulu ketimbang membalas langsung sapaan saya. Sebuah senyuman untuk mengalihkan tawa, yang dengan tiba-tiba seakan ingin mereka lakukan, setelah mendengar sapaan saya.

Sampai pada suatu hari, saat berkesempatan berjalan bersama Nuna (panggilan yang digunakan adik laki-laki untuk kakak perempuan: bahasa Korea) –seorang senior saya di lab-, saya berkempatan melakukan sedikit obrolan ringan seputar bahasa Korea dengan ia. Nuna menjelaskan, bagaimana intonasi yang tepat dalam pengucapan beberapa ungkapan harian bahasa Korea, termasuk ungkapan “Annyong Haseyo”.

Sekarang saya menjadi tahu penjelasan perilaku ganjil mereka saat menyahut salam saya. Ternyata sapaan ‘Annyong haseyo’ memiliki intonasi yang berbeda untuk setiap penuturnya. Bagi seorang pria, ucapan ini disampaikan dengan intonasi penuh semangat dan tegas. Intonasi sebaliknya dilakukan oleh penutur perempuan.

Sejauh ini kesan yang saya tangkap dari pelafaz perempuan adalah manja dan ingin diperhatikan. Saya menjadi mengerti sekarang, intonasi tidak natural yang saya gunakan selama ini menjadikan pelantunan sapaan tersebut terdengar aneh. Saya tersenyum sendiri bila membayangkan intonasi yang dulu pernah saya gunakan. Wajar saja jika mereka menganggap itu lucu, pikir saya.

Saya sedikit beranalisa sederhana, sebuah analisa pribadi. Menurut saya kemajuan Korea Selatan sekarang ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh gaya sapaan ini. Mereka secara tidak sadar menjadi sekelompok masyarakat yang memiliki “semangat” yang terus diperbaharui oleh lingkungan. Masyarakat mereka memiliki mekanisme untuk saling memberikan semangat secara terus menerus.

Ruh feodalisme pun kemudian mempengaruhi peraturan tidak tertulis penyampaian sapaan ini. Sapaan ini akan selalu didahului oleh orang yang berstatus sebagai junior. Bila bertemu di mana pun dan kapan pun, seorang yunior akan membungkukkan badan sedikit sembari menyapa dengan sapaan ini. Senior pun membalasnya dengan antusias. Jenis ungkapan yang digunakan pun tidak berubah sepanjang hari.

Anggapan saya mereka memiliki pemahaman dan tujuan yang sama dengan pelatihan motivasi yang dulu pernah saya ikuti. Dapat dibayangkan berapa besar energi positif yang mereka bangun satu sama lain dalam satu hari jika mereka bertemu dengan ratusan atau bahkan ribuan orang.

Saya sempat membaca sebuah artikel yang membahas bagaimana perkataan positif mampu mempengaruhi perkembangan makhluk hidup. Sebuah tanaman pun mampu meningkatkan produktivitasnya ketika sang pemilik mengajak tanaman tersebut ngobrol setiap kali melakukan perawatan.

Ada sebuah renungan yang menarik buat saya. Bagaimana dengan kita sebagai muslim. Bukankah dalam Islam kita juga memiliki gaya sapaan yang memiliki fungsi lebih dari sekedar untuk menyemangati? Sebuah salam yang sarat dengan doa. Sebuah salam yang dipilihkan Sang Pencipta secara langsung untuk kita. Sebuah salam kaya regulasi etika yang ditetapkan untuk penghuni surga, meski surga dengan keindahannya belum pernah dipertontonkan kepada kita.

Semestinya dengan ucapan Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh, kita menjadi sebuah masyarakat yang berada di atas semua jenis masyarakat di bumi sekarang ini. Masyarakat yang menyebarkan ketenangan, ketinggian akhlak, keagungan, sekaligus masyarakat yang menjaga semua nilai keseimbangan positif lainnya. Karena demikianlah Islam, ruh sapaan khas itu mengajari kita.

Bagaimana kawan siapkah kita menjadi ruh sinergi positif yang bertitel umat terbaik ini? Maka tak ada lagi waktu untuk menunggu. Mari kita bangun cikal bakal kemajuan kita dengan menyebarkan gaya sapaan berkualitas surga ini ke siapa pun muslim yang kita jumpai. Maka jika kita mulai lupa dengan kebiasaan ini, bersegeralah kembali pada kebiasaan mulia ini.

Sambutlah salam saya dengan nilai dan kemurnian intonasi paling indah, yang kawan pernah temui….wassalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh. [Kiriman Syahnada Jaya Syaifullah, penulis adalah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 02 dan sekarang sebagai penerima beasiswa BK21 dalam program studi master di bidang Environmental Horticulture Biotech of Dankook Uni. (DKU), Cheonan, Korea selatan]. http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9591:annyong-haseyo-vs-assalaamualaikum-&catid=155:berita-dari-anda

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

Switch to our mobile site