ANTV, Jodha Akbar dan Sultan Sulaiman

Oleh: Nugra Fatah

sultan sulaimanNAMA Sultan Sulaiman hari-hari ini menjadi pembicaraan di jejaring social. Pembicaraan terutama sejak digambarkan sangat buruk dalam film King Sulaiman pada siaran televisi ANTV. Sementara cerita juga dirangkai subjektif oleh produser liberal-sekuler membuat sosok mulia Sulaiman menjadi makin negatif dan hina.

Ini bukan kali pertama televisi ini mengangkat kisah-kisah palsu dari para pendongeng Barat. Sebelum ini, ANTV sudah menayangkan “Jodha Akbar”, sebuah sinertron yeng menggambarkan kerajaan Islam Mughal dengat sangat negatif, penuh dengan kebusukan, persaingan tidak sehat, kedengkian, menghalalkan segala, cara bahkan zalim, seperti menyerang tempat ibadah agama lain (sungguh jauh dari ajaran Islam dan sejarah aslinya).

Sebaliknya, tokoh Jodha yang merupakan representasi umat Hindu/kerajaan yang berhasil ditaklukkan kerajaan Muslim Mughal digambarkan sangat positif, seperti taat terhadap ajaran agamanya, digambarkan sebagai “korban yang tertindas”, selalu berpikir jernih dan sebagainya. [baca: Tayangan Jodha Akbar Pojokkan Islam dengan Cerita Palsu]

Padahal kita tahu bahwa kerajaan Islam Mughal berdiri di India selama tiga ratus tahun (1504-1800-an) dan mengalami puncak jayanya dengan mengusai hampir seluruh anak benua (India-Pakistan-Bangladesh saat ini), kecuali beberapa bagian tertentu di ujung pesisir selatan semenanjung ini.

Siapa Sultan Sulaiman?

Sultan Sulaiman adalah pemimpin imperium kesultanan Utsmaniyah 60 tahun setelah jatuhnya Konstantinopel ke pangkuan Muslimin pada masa Sultan Muhammad Fatih. Sementara cucu Sultan Fatih, Salim I, yang juga ayah dari Sultan Sulaiman telah berhasil menaklukkan Syiria dan Mesir, mengakhiri kekuasaan Mamalik (Mamluk) serta membuat Safawi Syiah tidak berani bertindak gegabah terhadap Utsmaniyah.

Praktis Sultan Sulaiman mewarisi wilayah kekuasaan yang membentang luas dari Hungaria-Serbia di Timur Eropa, Mesir-Syiria di Timur Tengah hingga negara-negara Afrika Utara. Laut Tengah (Mediterania) yang merupakan urat nadi Eropa pun di bawah kekuasaan Angkatan Laut umat Islam Utsmaniyah. Bentuk wilayah kekuasaan yang terwariskan pada Sultan Sulaiman mirip bulan sabit dengan Eropa sebagai bintangnya.

Blokade ekonomi yang dilakukan Utsmaniyah terhadap Eropa ini pulalah yang mendorong bangsa Eropa untuk mencari jalan lain menuju wilayah sumber daya alam, melintasi Afrika Selatan, Tanjung Harapan hingga mencapai India dan Asia.

Sultan Sulaiman lahir pada tahun 1494, selisih setahun saat berakhirnya Islam di Granada Spanyol. Ia menjadi Sultan pada tahun 1520, di usia 25 tahun (masa datangnya Portugis ke nusantara, berdirinya kerajaan Aceh, Banjar dan kekuasaan Demak).

Pada masanya ia berupaya menaklukkan negara-negara Eropa Timur dalam upaya jihad sehingga jatulah Hungaria, Austria, Transilvania dan Polandia di bawah bayang-bayang Utsmaniyah. Sebelumnya Bosnia dan Yunani yang terlebih dahulu takluk semakin tunduk dalam bendera kesultanan. Tak sedikit raja-raja Eropa tumbang dalam peperangan dengan Utsmaniyah, tak heran jika kekalahan di masa lampau menimbulkan kebencian di masa kini dengan hadirnya film King Sulaiman.

Kepulauan Rhodes yang berada di seberang Libanon, yang dikuasai sisa-sisa dan keturunan Pasukan Salib kerap mengganggu pelayaran jamaah haji Turki ke Makkah, mengundang Sultan memimpin langsung mengusir Pasukan Salib Hospitaler.

Dengan 400 kapal dan puluhan ribu pasukan Utsmaniyah memukul telak Pasukan Salib hengkang ke pulau Malta dekat Italia. Upaya terakhir dalam kampanye penaklukan Eropa berakhir di gerbang Wina pada tahun 1432, saat ratusan ribu pasukan Utsmaniyah terpaksa mundur karena cuaca dingin yang buruk. Meninggalkan berkarung-karung logistik termasuk kopi yang kemudian diambil pasukan Eropa.

Dari peristiwa inilah Eropa mulai mengenal kopi secara luas. Bahkan konon diceritakan sebelumnya Paus mengharamkan kopi namun setelah menikmati suguhan kopi hasil peninggalan pasukan Utsmaniyah dan merasakan kenikmatannya, lantas Paus menghalalkan kopi bagi umatnya.

Tahun yang sama pula (1432) Kerajaan Syiah Safawi Persia mencoba mencaplok Iraq dengan membunuh Gubernur Baghdad yang tunduk pada Utsmaniyah. Segera Sultan Sulaiman mengirim pasukan dan turut serta pada tahun berikutnya ke wilayah Suriah-Iraq.

Syiah Safawi pun tak berani melakukan perlawan dan memilih berdamai. Utsmaniyah semakin menancapkan kekuatan pada wilayah Timur Tengah.

Beberapa tahun berikutnya tepat 1438 perang laut monumental terjadi yang dikenal sebagai Perang Preveza dekat Yunani, di mana 300 kapal perang gabungan Eropa (NATO: Venisia, Spanyol, Kepausan Roma, Genoa ) yang dikumpulkan Paus Paul III hancur berhadapan dengan penguasa laut Eropa (Mediterania), Khairuddin si Janggut Merah atau dikenal Khairuddin Barbarossa (penampilannya dapat kita lihat pada film Pirates). Khairuddin Barbarossa, perwakilan Utsmaniyah di Laut Tengah, merupakan momok bagi pantai-pantai Eropa sehingga ia menjadi legenda mimpi buruk Eropa dan terwariskan pula dalam cerita-cerita sebagai penjahat menurut versi barat.

Konflik Utsmaniyah dengan Portugis juga tak terhindarkan di laut Persia hingga India. Portugis berniat menggunting kekuatan Muslimin dengan mencaplok wilayah-wilayah sumber daya alam yang tak terlindungi militer kuat di Asia. Portugis berupaya menaklukan Arab, Yaman dan India namun mendapatkan perlawan keras dari kesultanan di daratan Yaman hingga pertempuran laut.

Pada tahun 1564, utusan kerajaan Aceh datang menghadap Sultan Sulaiman meminta bantuan militer melawan Portugis. Dengan landasan ukhuwah Islamiyah, sultan mengirimkan banyak kapal perang, meriam serta perwira militer untuk membantu Aceh mengusir Portugis.

Kemampuan Sultan Sulaiman dalam memimpin wilayah yang besar dan luas ini lantas masyarakat barat mendapuknya dengan gelar Sulaiman The Magneficent atau Sulaiman yang Hebat. Imperium Utsmaniyah sendiri menggelari Sultan Sulaiman dengan gelar al Qonun (undang-undang), karena ia berhasil menyusun peraturan undang-undang kenegaraan dan masyarakat berdasarkan syariat yang diberlakukan hingga 300 tahun setelah wafatnya.

“Ia tidak hanya merupakan pemimpin kampanye militer yang besar, manusia dari pedang, seperti ayah dan kakeknya. Ia berbeda dari mereka karena (Sulaiman) juga merupakan manusia dari pena. Ia merupakan legislator ulung, berdiri di depan mata rakyatnya sebagai penguasa berjiwa besar dan eksponen keadilan yang murah hati”, ungkap Sejarawan Barat Lord Kinross.

Inilah salah satu warisan Sultan sebagaimana diungkapkan seorang pengelana Prancis Jean de Thévenot seabad kemudian, “Basis pertanian yang kuat, kesejahteraan menjadi petani, melimpahnya makanan pokok, dan keunggulan organisasi pada pemerintahan Sulaiman.”

Selain mewariskan Undang-undang, Sultan juga mewariskan pendirian universitas dan masjid Sulaiman. Dan kini foto Sultan Sulaiman juga terpampang di gedung parlemen Amerika Serikat sebagai salah satu pemimpin yang melahirkan undang-undang kenegaraan.

Hanya berselang 20 tahun setelah wafatnya Sultan Sulaiman, Portugis lenyap dari muka bumi karena kekalahan dalam Perang Tiga Raja di Maroko pada 1480. Perang antara Raja Portugis melawan Sultan Maroko dibantu kekuatan militer pasukan khusus Turki, Inkisyariah atau Jannisary.

Ada apa dengan ANTV?

Sebelum kasus Sultan Sulaiman, televisi ini sudah pernah mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait adanya pengaduan film seri “Jodha Akbar” yang menyudutkan Islam dengan cerita palsu. [Baca: KPI Sudah Panggil ANTV untuk Mengambil Sikap Soal Tayangan “Jodha Akbar”]

Faktanya, meski ada teguran masyarakat dan pemanggilan dari pihak KPI, statisun TV ini tetap saja melanjutkan seri Jodha Akbar hingga selesai. Bahkan dilanjutkan dengan penayangan King Suleiman yang kembali membuat kekecewaan umat Islam Indonesia.

Dua kasus ini tentu tidak bisa dipandang selepe. Karena itu, umat Islam harus tegas bersikap dengan stasiun TV yang selalu memainkan perasaan umat Islam dan tidak memiliki kepekaan sosial seperti ini. Jika tidak, kasus Jodha Akbar akan tetap terjadi.*

Penulis buku “Panglima Surga”, follow twitter @nugrazee

( Hidayatullah)

Rep: Administrator

Editor: Cholis Akbar

Mari berkomentar dengan santun !