Kami Dukung Proyek Jalur KA tapi Perhatikan Dampaknya

Salah seorang orator yang membawa warga tiga desa di Kecamatan Medang Deras, berunjukrasa.

Salah seorang orator yang membawa warga tiga desa di Kecamatan Medang Deras, berunjukrasa.

MEDANGDERAS – Ratusan masyarakat dari tiga desa yakni, Desa Pakam, Desa Pakam Raya dan Desa Pematang Cengkring, Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara, berunjukrasa di lokasi pembangunan proyek Jalan Kereta Api (KA) di sekitar Desa Kebun Ubi (pajak sore), Selasa (28/10).

Pantauan wartawan koran ini, unjukrasa yang dikoordinis mahasiswa antara lain, Sofian, Vernando Simanjuntak, Muhammad Yusro Hasibuan dan Zamal Setiawan membawa warga dan sejumlah spanduk serta poster bertuliskan tuntutan mereka.

Saat berorasi, para mahasiswa meminta kepada pelaksan proyek supaya dibuatkan jalan alternatif bagi masyarakat, karena selama ini sudah terganggu semenjak adanya  pembangunan jalan kereta api.

Mereka juga menilai, badan jalan kereta api yang dalam proses pembangunan kondisinya terlampau tinggi, hingga menyulitkan masyarakat beraktivitas dan menimbulkan bahaya saat menyeberangi jalan. Selain itu, mereka meminta supaya diberikan konpensasi pembangunan jembatan dan ganti rugi lahan dan pemukiman masyarakat yang terkena dampak pembangunan.

Mereka juga meminta, supaya pihak PT KAI, Pemkab Batubara, Pemprov Sumut, Satker dan PT MPJ melakukan uji kelayakan dan dampak lingkungan yang ditimbulkan pengerjaan proyek.
Beberapa lama berorasi, para pengunjukrasa akhirnya difasilitasi pihak Polres Batubara bertemu dengan pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan proyek. Pertemuan dilakukan di RM Sempurna Simpang Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka.

Hadir dalam pertemuan itu, Koordinator Teknis Kereta Api dari Kementerian Perhubungan Sumut Fahrul Hasibuan, Kontraktor PJKAI Pakpahan dan Kabag Ops Polres Batubara Kompol J Sitompul SH.

Saat pertemuan, perwakilan masyarakat meyampaikan supaya pihak pelaksana proyek membuat jalan alternatif, menimbun jalan kereta api dengan pasir di titik-titik yang banyak dilintasi masyarakat, seperti jalan menuju sekolah dan pajak sore.

Mereka juga mengeluhkan, pembangunan timbunan jalan kereta api di depan rumah warga terlalu. Selain itu, masyarakat meresahkan adanya biaya sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta sebagai biaya untuk pembangunan bes di depan rumah mereka.

“Kami berharap, pelaksana proyek benar-benar memberikan perhatian terhadap dampak lingkungan (Amdal) dan dampak getaran (HO) yang ditimbulkan pembangunan. Karena selama ini sudah banyak dampak lingkungan yang kami rasakan,” kata mereka.

Mereka menegaskan, sebenarnya masyarakat mendukung pembangunan proyek jalan kereta api. Tapi harus dipikirkan dampak yang ditimbulkan, karena nantinya masyarkat juga yang dirugikan,” ungkap Ari Pane (50).

Menyikapi permintaan warga, Koordinator Teknis Kereta Api dari Kementerian Perhubungan Sumut Fahrul Hasibuan mengatakan, proyek jalan kereta api  merupakan proyek mendukung MP3EI.

Pihaknya mengaku, sudah merencanakan dan sudah merealisasikan beberapa permintaan masyarakat seperti rencana membangun jalan alternatif untuk masyarakat. “Terkait tingginya timbunan jalan kereta api, menurutnya itu sudah sesuai dengan kajian dan teknis pengerjaan,” katanya. (wan) (METROSIANTAR)

Mari berkomentar dengan santun !