Kritisi Proyek Disdik, Ketua HIMPA Batubara Diintimidasi di Warung

Batubara – Getol mengkritisi pembangunan, Ketua Himpunan Mahasiswa dan Pemuda (HIMPA) Batubara mendapatkan intimidasi dari orang-orang yang diduga suruhan pejabat. Kejadian itu dialami Roma Damanik di salah satu warung di depan kantor Camat Limapuluh, Selasa (28/10).

“Benar bang. Semalam waktu aku makan di sini, mereka datang sudah ngomel-ngomel. Sepertinya mengarah ke aku. Pas aku tanya, kenapa bang? Mereka menjawab “makanlah dulu kau”, ujar Roma kepada SIB, Rabu (29/10).

Setelah selesai makan, kedua orang yang disebut berinisial Z dan S itu, lanjut dia, masih melontarkan kata-kata tidak menyenangkan dan tidak senonoh dialamatkan kepadanya.

“Ada juga badanku disorongnya. Tapi kawan-kawan ikut membela dan menyuruh mereka keluar dari warung ini. Sebenarnya kalau kubawa ke jalur hukum bisa saja. Mereka sudah melakukan pengancaman, perbuatan tidak menyenangkan dan penghinaan. Tapi biar sajalah bang,” terang Roma kepada SIB.

Dugaan intimidasi itu, menurutnya, terkait aksi mereka yang selama ini mengkritisi pembangunan di Pemkab Batubara. Salah satunya proyek di Dinas Pendidikan Batubara yang diduga sarat penyimpangan.

Aksi intimidasi kepada aktivis itu mendapat pembelaan dari rekannya. Dari informasi yang dihimpun mengatakan, ada rekan Roma sampai membanting kursi menunjukkan sikap tidak takut kepada intimidasi kedua orang itu. Di luar warung, salah satu dari mereka sempat menendang sepeda motor yang parkir sampai jatuh.

Dari berbagai informasi yang dihimpun SIB menyebutkan, saat ada keributan itu terdengar nama Darwis memberi uang sebesar Rp 15 juta. Pemberi uang yang diduga oknum Kadis Pendidikan Batubara itu bertujuan untuk meredam aksi unjuk rasa HIMPA. Namun faktanya, HIMPA tetap menyampaikan aksi mereka ke Kejaksaan Limapuluh, beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Batubara, Darwis yang dihubungi SIB terkait namanya disebut-sebut itu membantah. Pengakuannya, tidak pernah memberi uang kepada orang yang ribut itu.

“Saya tidak ada kasih uang kepada mereka. Kalau ada ribut dan mereka hampir adu jotos soal itu, mana aku tahu. Itu urusan mereka. Sama saja kalau ada nelayan dan nelayan saling bunuh soal Jokowi, apa harus Jokowi yang ditanya dan dipersalahkan?” kilah Darwis. (E3/q) (SIB)

Mari berkomentar dengan santun !