Pembangunan Jalur KA Bandar Tinggi akan Sejahterakan Masyarakat

Oleh: Alpian.

Pembangunan jalur Kereta Api (KA) Bandar Tinggi menuju pela­buhan internasional Kwala Tanjung di Kabupaten Batubara dipastikan akan mampu meningkatkan pereko­nomian masyarakat. Karena dengan beroperasinya nanti Kereta Api, akan tumbuh berbagai peluang usaha, yang akan menyerap tenaga kerja , yang pa­da akhirnya masyarakat akan sejahtera.

ka-bahaya

seorang warga tengah melintas di rel kereta yang belum jadi

Betapa tidak, jalur kereta sepanjang 21,5 kilometer ini nantinya akan mempengaruhi berbagai sektor yang selama ini menjadi kerugian bagi ma­sya­rakat, seperti kerusakan infra­struk­tur jalan, keterlambatan peng­ang­kut­an, pemborosan ba­han bakar minyak dan dampak negatif lainnya. Disisi lain, dengan beroperasinya Kereta Api, dipastikan akan mampu me­ning­katkan perekonomian ma­syarakat.

Pengangkutan massal seperti Kere­ta Api sangat murah diban­ding dengan transportasi lainnya. Proyek ini termasuk dalam pro­yek raksasa Mas­terplan Perce­patan dan Perluasan Pem­­ba­ngunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk koridor Sumatera Uta­ra, dimana Kawasan Eko­nomi Khu­sus (KEK) di Sei Mangke (Si­ma­lu­ngun), dan Pelabuhan Kwala Tan­jung (Ba­tu­bara) ditetapkan sebagai pen­dukungnya.

Dengan begitu banyak dan besar­nya nanti kegiatan ope­rasional di KEK Sei Mangke , maka bisa kita bayang­kan seperti apa nanti kesibukan yang akan terjadi di pelabuhan dan stasiun kereta api di Kwala Tanjung ini, dan sejak dini mari kita ajak warga sekitar kwala tanjung untuk bersiap mene­rima keha­diran kemajuan ini.

Masyarakat Kabupaten Batu­bara sejak dini harus mem­persiapkan putra putri mereka menjadi generasi-gene­rasi yang unggul dengan meningkat­kan kualitas sumber daya manusia yang handal melalui sarana pendi­dikan yang telah diper­siapkan peme­rintah daerah, provinsi maupun peme­rintah pusat. Masyarakat Batubara jangan jadi penonton di daerahnya, akan tetapi masyarakat Batubara harus berperan aktif untuk mendukung kemajuan di daerahnya.

Kepala Satuan Kerja (Satker) per­ke­retaapian Sumatera Utara , Achyar Pasaribu , kepada Analisa men­jelas­kan, dengan beropera­sinya stasiun Ke­reta Api di Pelabuhan Kwala Tanjung nanti, otomatis akan banyak menyerap tenaga kerja, dan tumbuhnya peluang usaha. Sebagai contoh kecil, ia mem­buat perum­pamaan seperti akan terse­dianya warung makan, penginapan, kos-kosan, dan warung kebutuhan yang menyediakan 9 bahan pokok se­suai dengan bertambahnya kesibu­kan dan populasi warga di seputaran pelabuhan.

Keuntungan lain dari pela­buhan Kwala Tanjung ini , adalah memotong waktu tempuh dari sentra produksi yang selama ini diangkut kepelabuhan Bela­wan, akan mengurangi waktu tem­puh bagi setiap kenderaan truk/tangki maupun pengangkutan penum­pang, sehingga nilai efisiensi ekono­misnya semakin signi­fikan.

Sebagaimana diketahui sejak tahun 2011 pembangunan telah dimulai dengan pengadaan tanah dimana tanah yang dibutuhkan adalah seluas 260.310 M2 dengan rincian 174.096 M2 untuk jalan KA , 20.214 M2 untuk akses jalan masyarakat yang terkena dam­pak dan 66.000 M2 untuk stasiun KA.

Dari luas keseluruhan tanah, 28.968 M2 adalah merupakan lahan Otorita Asahan yang telah diserahkan melalui MoU antara Otorita Asahan, Kemen­trian Perhubungan Direktorat Perkere­tapian dan Pemkab Batubara. Sisa lahan yang dibutuhkan adalah milik PT.MOEIS dan masyarakat yang masih diproses sesuai UU No 2 tahun 2012 dan Perpres 71 tahun 2012 yang merupakan tanggung jawab Peme­rintah Propinsi Sumatera Utara.

Selanjutnya pada tahun 2012 peme­rintah pusat telah menge­luarkan dana untuk pemba­ngunan tubuh jalan KA (Baan) diatas tanah eks Otorita Asahan sepanjang 8 KM. Tahun beri­kutnya yaitu tahun 2013 di­lanjutkan lagi pem­bangunan diatas tanah eks Otorita Asah­an sepanjang 6,25 KM .

Total pembangunan badan jalan KA yang sudah dilak­sanakan sampai saat ini adalah 14,25 KM , sementara sisanya sepanjang 7,25 KM lagi yang me­rupakan lahan/tanah PT. Moeis dan ta­nah masyarakat masih belum dilak­sanakan, karena masih dalam tahapan penyelesaian pembebasan lahan Pemerintah Daerah.

Pihak Satker Perkereta apian Su­matera Utara menghimbau warga se­kitar untuk tidak merasa khawatir de­ngan adanya pem­bangunan Rel Kereta Api dide­pan rumah mereka, karena pihakya akan segera memba­ngun jalan pintas, dan pagar pembatas untuk keamanan dan kenyamanan warga beraktivitas.

Satker juga menggaransi bahwa pihaknya telah bekerja sesuai dengan ketentun hukum dan perundang un­dangan yang berlaku. Menying­gung isu di mana masyarakat menuding pem­bangunan Rel Kereta Api tidak mem­punyai Amdal, pihak Satker men­jawab dengan keten­tuan peratur­an sesungguhnya.

“Menurut Peraturan Mentri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 5 tahun 2012 Lampiran E bidang Perhubu­ngan, pem­bangunan Jalur Kereta Api diatas tanah sepanjang lebih atau sama dengan 25 KM wajib memiliki AM­DAL , serta UU No. 32 tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pasl 34 ayat (1) setiap usaha yang tidak termasuk dalam kriteria wajib AMDAL seba­gaimana dimaksud dalam pasal pasal 23 ayat (1) wajib memiliki AKL/UPL”, kata Satker.

Maka dengan mengacu ke­pada kedua undang undang di atas, ma­syarkat tidak perlu lagi meributkan atau memper­tanya­kan berkas AM­DAL pemba­ngunan Rel Kereta Api ini. Karena dijelaskan dalam UU bah­wa yang diwajibkan me­miliki AM­DAL adalah Rel Kereta Api yang pan­jangnya mencapai 25 KM atau lebih.

Jadi karena Rel Kereta Api dari Bandar Tinggi – Kwala Tanjung ini tidak sampai 25 KM sehingga tidak wajib memiliki AMDAL, dan dengan panjang­nya hanya 21,5 KM , maka sesuai dengan amanah dalam Undang Undang itu, pem­bangunannya cukup hanya de­ngan memiliki izin Upaya Pe­ngelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, ujarnya. Semoga. (analisa)

Mari berkomentar dengan santun !