Penemu Alat Penyembuh Kanker Asal Indonesia: “Tak Ada Tempat Buat Saya di Indonesia?”

Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Dr Warsito P Taruno. (inet)

Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Dr Warsito P Taruno. (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Penemu alat penyembuh kanker asal Indonesia, Warsito Purwo Taruno menulis sebuah surat terbuka di akun Facebooknya, Warsito Purwo Taruno, Senin (30/11/2015). Dalam isi suratnya, Warsito mengaku, mendapatkan sebuah tekanan dari salah satu lembaga. Warsito diminta untuk menghentikan risetnya di Indonesia.

“12 tahun kemudian sejak pertama kali ECVT ditemukan, hari ini di tempat yang sama saya mendapat surat dari sebuah lembaga agar saya menghentikan semua kegiatan pengembangan riset saya di Indonesia. Haruskah pertanyaan 12 tahun yang lalu perlu diulang: “Tak ada tempat buat saya di Indonesia?” tulis Warsito melalui akun Facebooknya, Senin (30/11/2015).

Di awal suratnya itu, Warsito menulis bagaimana dirinya menghadapi berbagai ujian dan rintangan semasa awal-awal memulai risetnya. “12 tahun yang lalu hari-hari ini, saya kehilangan data riset saya hasil kerja selama 15 tahun. Komputer laptop terakhir saya ‘crash’ setelah berhari-hari menjalankan program rekonstruksi data pemindaian. Sebelumnya 2 komputer lain yang menyimpan data backup hangus tersambar petir, 2 lagi juga ‘crash’ terlebih dahulu karena tak mampu menjalankan program,” tulis Warsito.

Ketika baru memulai membina riset di Indonesia selama 6 bulan, dia mengisahkan, langit bagaikan runtuh, seolah-olah mengatakan bahwa “Tak ada tempat buat saya di Indonesia.” Menurutnya, seperti tidak ada ‘shock’ yang lebih berat dari itu yang pernah dialaminya sehingga membuat dirinya seminggu lebih tak mampu keluar rumah.

Tetapi hal itu tak merubah niat Warsito untuk mencoba membangun riset di Indonesia. Selama 12 tahun, di sebuah ruko di Tangerang, dengan bermodalkan puing-puing akhirnya Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) diciptakan.

Mari berkomentar dengan santun !