Walikota Yogya Jalin Kerjasama Pembuatan Tusuk Sate

Setelah Kunjungi Binjai

(Analisa/Novi Dahlia) SERIUS: Walikota Yogyakarta H. Haryadi Suyuti didampingi Walikota Binjai HM Idaham SH MSi, serius saat melihat pembuatan tusuk sate, salah satu hasil UKM Kota Binjai.

(Analisa/Novi Dahlia) SERIUS: Walikota Yogyakarta H. Haryadi Suyuti didampingi Walikota Binjai HM Idaham SH MSi, serius saat melihat pembuatan tusuk sate, salah satu hasil UKM Kota Binjai.

Binjai,  Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti bersama istri, Tri Kirana berkunjung ke Kota Binjai, Sabtu (20/12). Kedatangan Walikota Yog­yakarta itu, disambut Wali­kota Binjai, M Ida­ham.

Turut mendampingi Ke­tua TP PKK Kota Binjai, Lisa An­driani Idaham, Wakil Wa­li­kota Timbas Tarigan dan seluruh pimpinan SKPD di ru­mah dinas walikota Jalan Veteran Kelurahan Tangsi Keca­matan Binjai Kota.

Kunjungan Walikota Yog­yakarta itu, selain sebagai kun­jungan balasan dari Walikota Binjai beberapa waktu lalu, guna memba­has kerjasama yang akan di­laksanakan antara dua kota itu di bidang pendidikan, perta­nian, Usaha Kecil Mene­ngah (UKM), pemerintahan, buda­ya serta wisata.

Walikota Binjai mengajak Walikota Yogyakarta mengelilingi Kota Binjai, sekaligus diajak melihat be­berapa hasil UKM dan perta­nian yang berasal dari Kota Binjai.

Pertama kali yang dikunju­ngi kedua kepala daerah itu, pusat grosir tusuk sate Idaman Binjai Institute (IBI) di Jalan Perintis Kemerdekaan Kelu­rahan Pahlawan.

Idaham menjelaskan kepa­da Walikota Yogyakarta, saat ini pembuatan tusuk sate di Kota Binjai, salah satu peker­jaan home industri yang se­dang digalakkan Pemko Bin­jai, karena permintaan pasar terhadap tusuk sate masih besar.

Penyediaan tusuk sate bermitra dengan kelompok-kelompok pembuat tusuk sate dengan bahan dasar bambu, yang banyak tersedia di Kota Binjai.

Dijelaskannya, usaha tusuk sate baru berjalan selama 1 tahun, dan permintaan akan tusuk sate terus mengalami pening­ka­tan. Usaha home industri ini banyak mempe­ker­­jakan ibu rumah tangga, sehingga mereka da­pat sedikit membantu perekonomian keluarga.

“Harga tusuk sate dijual Rp 17.000 per kilogram, jauh le­bih murah dari tusuk sate impor yang dijual dengan har­ga Rp 22.000 per kg. Tentunya ini menjadi motivasi bagi ma­syarakat Binjai untuk dapat memproduksi tusuk sate da­lam jumlah yang lebih banyak, dan tentunya Pemko Binjai telah menye­diakan peralatan produksinya,” ujarnya.

Setelah mendengar penje­lasan dari Wa­li­kota Binjai, Walikota Yogyakarta tertarik un­­tuk dapat menjalin kerja­sama dalam bentuk pe­­latihan pembuatan tusuk sate di Yog­ya­kar­ta, dengan menghadir­kan tutor dari Bin­jai.

Kebun Jambu

Setelah berkunjung ke pembuatan tusuk sate, Wali­kota Yogyakarta diajak ber­kun­jung ke kebun buah jambu deli hijau milik salah satu pe­nangkar di Jalan Skop Kelu­rahan Cengkeh Turi.

Walikota Yogyakarta ka­gum melihat buah jambu apa­lagi setelah merasakan manis­nya jambu deli hijau.Haryadi Suyuti tertarik untuk dapat mengembangkan jambu deli hijau di Yogyakarta.

Herman pemilik lahan jambu menje­le­laskan, dengan luas area 1,5 hektare dapat di­isi 1.500 pohon jambu dan menghasilkan 30 kg jambu per hari dengan total uang menca­pai Rp 30 juta perbulan .

Jambu deli hijau merupa­kan varietas asli dari Binjai, dan telah mendapat sertifikat dari Menteri Pertanian.

Selain berkunjung ke ke­bun jambu milik Herman, Walikota Yogyakarta diajak melihat kebun jambu deli hi­jau dan jambu kesuma merah milik Sunardi terletak di Jalan Sei Remban Kelurahan Paya­roba.

Sunardi memaparkan se­lain di Binjai, dia telah mem­perluas usaha jambu miliknya sampai ke Jambi dan Kabu­paten Bantul.

Hal itu tentunya disambut baik Walikota Yogyakarta, karena dengan begitu bibit jambu deli hijau dengan kua­litas yang sama sudah bisa di­temui di beberapa daerah di Indonesia.

Selain buah jambu, Su­nardi juga telah menghasilkan varietas baru, yaitu pohon cempedak berbuah nangka serta dia sedang menangkar beberapa jenis burung.

Kesuksesan Sunardi telah mem­perke­nalkan Binjai de­ngan buah jambunya ke selu­ruh Indonesia. Penangkaran buah jambu milik Sunardi sering dikunjungi sebagai penelitian dan pendidikan.

Dengan hanya pendidikan tamatan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK), saat ini Sunardi sering diundang ke IPB Bogor untuk memberikan kuliah.

Ide Cemerlang

Menyikapi tanaman jambu yang telah terkenal di Indonesia, Walikota Binjai mempu­nya ide cemerlang dalam menum­buhkan perekonomian di Binjai, yaitu kepada setiap pengunjung atau peneliti tanaman jambu milik Sunardi disarankan untuk menginap di Kota Binjai bukan di kota lain.

“Hal ini demi meningkat­kan pere­kono­mi­an Binjai, para peneliti atau pe­ngunjung akan berbelanja dan memba­yar penginapan atau hotel, se­hingga uang akan lebih ba­nyak tinggal di Binjai,” tegas Idaham.

Usai diajak berkeliling me­lihat hasil UKM dan perta­nian, Walikota Yogya­karta dijamu Walikota Binjai ma­kan malam di rumah dinas­nya. Idaham mengatakan, Kota Binjai selalu aman dan damai, walaupun memilki berbagai suku, etnis dan agama yang berbeda. Hal itu dapat terjadi karena sikap saling meng­hormati dan penuh toleransi yang tinggi yang dimiliki masyarakat Binjai.

Melayu merupakan suku ibu di Kota Binjai. Keter­bukaan suku Melayu menjadi tempat yang nyaman bagi suku lain di Kota Binjai. Etnis Jawa dapat berdampingan secara damai dengan Melayu.

Hal ini juga ditegaskan tokoh masyarakat Pujake­suma, Adi Mariadi. Adi Ma­riadi juga me­ngajak Walikota Yogyakarta untuk ber­kunjung dan menikmati makanan yang di olahnya, seperti sop gabus, bakso mataram dan sebagai­nya.

Walikota Yogyakarta ber­terimakasih atas sambutan yang diberikan baik itu dari Walikota Binjai dan masya­rakatnya.

Haryadi mengajak Pemko Binjai untuk bekerjasama dalam pertukaran pelajar se­hingga generasi muda akan mengetahui betapa luasnya Indonesia, sekaligus bertukar informasi dan pendidikan berbudaya sebagai cerminan masyarakat yang akan meles­tarikan warisan budaya di­masa mendatang. (nov) (Analisa).

Mari berkomentar dengan santun !