Warga Batu Bara Keluhkan Pustu Tak Berfungsi

puskesmas - kesehatanBatu Bara – Sejumlah warga di desa-desa di Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara, mengeluhkan fungsi Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu) di desa mereka. Pasalnya, hal itu dianggap tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Padahal, menurut warga di sana, mereka sangat membutuhkan jasa pelayanan kesehatan tersebut, khusus bagi ibu-ibu hamil dan Program Posyandu bagi bayi/ balita. Namun, tugas dan fungsi Pustu yang menjadi akses utama bagi warga di desa itu seakan terputus. Sehingga jika ada warga yang sakit harus menuju Puskesmas atau RS dengan menempuh jarak yang jauh.

Kepada andalas, Minggu (3/5), Direktur Format NGO Azmi Saini Batubara sangat menyesalkan keadaan Pustu yang ada di desa-desa, tidak hanya Pustu di Kecamatan Tanjung Tiram, bahkan hampir semua Pustu di desa Kabupaten Batu Bara dinilai gagal dalam memberikan pelayanan ke warganya.

Azmi mengatakan, sering mendapatkan keluhan dari masyarakat terkait tidak maksimalnya pelayanan Pustu tersebut.”Bahkan keberadaan Pustu itu hanya sebagai sarang orang nikah di desa,”beber Azmi dengan nada kesal.

Menurutnya, keberadaan Pustu di desa perannya sangat membantu. Namun, karena tidak dapat difungsikan dengan baik, dan kurang proaktif para kepala desa, sehingga keberadaan Pustu tidak beroperasi setiap hari. Bahkan setengah hari saja pun tidak berfungsi, sehingga bagi warga membutuhkan jasa pelayanan kesehatan tidak bisa mendapatkan hal itu.

“Buat apa ada Pustu, jika tidak bisa melayani masyarakat. Untuk saat ini warga sangat membutuhkan Pustu tersebut, diharapkan kepada Dinas Kesehatan untuk memberikan tindakan kepada petugas Pustu ini,” kata Azmi.

Sebelumnya, Saparuddin mengatakan, pelayanan Puskesmas di Kecamatan Tanjung Tiram juga belum begitu maksimal. Sebab, dirinya pernah berobat ke Puskesmas Tanjung Tiram dengan menggunakan kartu miskin, tidak mendapatkan perawatan serius.

“Saya sempat marah-marah di Puskesmas, masya’ saya sakit tidak ada perawatan serius, hanya diberi obat, tetapi badan saya tidak diperiksa dan didiagnosa. Kalau begitu sama saja halnya saya beli obat di kedai biasa,”kata Saparuddin mengisahkan pengalaman pribadinya.

Ditabmahkan, Puskesmas Tanjung Tiram sepele dengan warga miskin yang menggunakan Kartu Miskin, bahkan boleh disebut pelayanan ke warga miskin setengah hati dilayani di Puskesmas. “Kami berobat tidak gratis, perobatan kami sudah dibayar melalui anggaran pemerintah. Jadi kami meminta disamakan pelayanannya dengan yang lain,”harapnya.(zn) andalas

Mari berkomentar dengan santun !